Tuesday, 4 April 2017

Pentingnya Rendah Hati - Nusantara Bertutur


Penghuni hutan Wanagama di Yogyakarta sedang bersemangat. Para binatang akan mengadakan lomba tahunan. Ada lomba lari, renang, dan menyanyi.
Momo Murai dan Rairay Murai berniat mengikuti lomba menyanyi. Siang ini mereka berdua sedang latihan. Lombanya tiga hari lagi.
“Suaramu bagus, Mo,” puji Rairay tulus. “Kamu pasti menang.”
Momo tersipu. “Suaramu juga tak kalah bagus kok.”
Tiba-tiba ada seekor burung kacer hinggap di dahan pohon tempat Momo dan Rairay berlatih. Seekor burung pipit mengikuti dari belakang.
“Kudengar kalian ikut lomba menyanyi juga ya?” tanya burung kacer.
Momo dan Rairay mengangguk.
“Jangan menangis ya kalau nanti kalah. Ceri pasti yang akan menang!” timpal burung pipit.
“Iya. Sudah pasti aku yang akan menang!” ujar burung kacer yang ternyata bernama Ceri itu. “Suaraku kan merdu. Iya, kan, Pipo?”
Pipo si burung pipit pun mengiyakan.
“Memangnya hanya kamu yang bisa bernyanyi?” sahut Momo gusar.
Rairay menenangkan sahabatnya itu. Ia menatap Momo dan menggeleng.
Melihat itu, Ceri dan Pipo tertawa.
“Sampai jumpa di lomba nanti, ya. Bersiaplah untuk kalah!” ejek Ceri, lalu pergi terbang bersama Pipo.
Momo menatap kepergian Ceri dengan kesal.
“Kenapa kamu menghalangiku, Ray? Kita kan juga bisa bernyanyi,” keluh Momo.
“Kita memang bisa bernyanyi,” jawab Rairay santai. “Tapi kita tidak perlu sombong soal itu.”
Momo terdiam. Rairay benar juga. Yang penting sekarang, mereka terus berlatih agar bisa mengikuti lomba dengan baik.
Hari lomba yang ditunggu tiba. Semua binatang penghuni hutan bersemangat. Setelah selesai lomba lari dan berenang, kini tiba saatnya lomba menyanyi. Para burung yang mengikuti lomba ini bersiap.
Sekarang giliran Ceri si burung kacer yang bernyanyi. Tapi rupanya suara yang keluar dari paruhnya tidak begitu merdu. Cuaca memang cukup dingin akhir-akhir ini. Itu yang membuat suara Ceri serak. Apalagi Ceri jarang berlatih karena merasa suaranya sudah bagus.
“Duh, mengapa suaramu jadi seperti itu, Ceri?” keluh Pipo setelah Ceri selesai bernyanyi.
Binbin hanya menunduk karena malu.
Lalu tiba gilaran Momo bernyanyi. Setelah itu, Rairay. Saat Momo dan Rairay tampil, semua binatang bersorak karena suara mereka yang merdu. Momo mendapat juara pertama dan Rairay di tempat kedua. Momo sangat berterima kasih pada Rairay yang telah menasehatinya agar rajin berlatih dan tetap rendah hati.
“Terima kasih, Ray,” ujar Momo. “Berkat kamu, aku jadi tahu pentingnya bersikap rendah hati. Kalau kita sudah sombong duluan, nanti akan malu kalau ternyata hasilnya tidak sesuai harapan. Iya, kan?”
Rairay mengangguk dan tertawa. “Kita tidak perlu bersikap sombong, cukup tunjukkan bakat kita saja.”
Momo setuju. Ia ikut tertawa bersama Rairay.

***

Bulu Tebal Shipi - Majalah Bobo


Mbeek..!
Shipi menoleh pada asal suara tersebut.
Ah, lagi-lagi kambing berbulu tipis.
Shipi sangat kesal. Pak Alfred lebih banyak menambah jumlah ayam, sapi, dan kambing di peternakannya. Hanya Shipi domba berbulu tebal yang ada di peternakan Pak Alfred. Ia merasa kesepian. Apalagi, para kambing tidak suka padanya.
“Kamu ini aneh,” ujar Goati, si kambing bertanduk besar. “Kamu juga mengembik seperti kami, tapi bulumu tebal sekali.”
“Mbeek... Benar itu!” sambung Tambing, si kambing berbulu hitam.
Shipi berjalan menjauh. Ia lebih suka mencari rumput di dekat pagar pembatas. Dari sini ia bisa melihat gunung di kejauhan.
“Mooo... Kamu kenapa, Shipi?” sapa Pipi, sapi sahabatnya.
Shipi menoleh. Pipi berjalan mendekatinya. Petok, si ayam betina, bertengger di atas pagar pembatas di dekat Shipi, ikut memperhatikan.
“Ada kambing baru lagi,” ujar Shipi sedih.
“Memangnya kenapa kalau ada kambing baru?” tanya Petok heran.
“Itu artinya akan makin banyak yang tidak suka padaku,” jawab Shipi.
“Jangan pikirkan hal itu, Shipi,kata Pipi menasihati.
“Petok.. Petok.. Itu benar!” sambung Petok. “Kan, masih ada aku dan Pipi. Aku yakin suatu saat mereka pasti akan menyukaimu.”
Shipi diam. Ia berharap bahwa perkataan Petok akan menjadi kenyataan.
***
Suasana di peternakan Pak Alfred mulai berubah. Shipi merasa ada yang aneh dengan teman-temannya. Mereka masuk ke dalam kandang lebih cepat. Mereka juga lebih suka berbaring di atas rumput kering saat malam.
“Angin dingin sudah mulai sering bertiup,” ujar Petok suatu malam.
“Iya,” Pipi mengangguk setuju. “Itu tandanya musim dingin akan segera tiba. Ah, aku tidak suka musim dingin.”
“Aku juga tidak. Aku tidak akan bisa memakan cacing lagi selama musim dingin,” keluh Petok.
“Aku tidak akan bisa memakan rumput yang segar lagi,” sambung Pipi. “Rasa dinginnya itu. Aku tidak suka dingin!
“Jadi, kalian semua bertingkah aneh karena musim dingin akan segera tiba?” tanya Shipi akhirnya. “Sekarang kan belum musim dingin. Masih ada waktu. Bersemangatlah teman-teman.”
“Anginnya sudah terasa dingin, Shipi. Kami tidak suka kalau kedinginan,” ujar Petok.
Shipi diam saja. Baginya angin yang bertiup terasa sama saja. Tidak dingin sama sekali. Bahkan saat salju mulai turun dan menutupi seluruh lahan peternakan Pak Alfred, Shipi tetap tidak merasa kedinginan. Sementara teman-temannya, semua lebih sering berlindung di balik kandang mereka.
***
“Mbeek… Bagaimana ini?” ucap Goati. “Kita bisa mati kelaparan kalau begini.”
“Ke mana sebenarnya Pak Alfred?” tanya Tambing.
Tak ada yang menjawab.
Sudah seminggu ini Pak Alfred tidak muncul. Padahal seharusnya ia membawakan rumput untuk para kambing dan sapi, serta jagung bagi para ayam. Hal ini membuat para binatang resah. Persediaan makanan mereka hampir habis. Kalau Pak Alfred tidak muncul juga, mereka semua akan mati kelaparan.
“Petok... Petok.. minggu kemarin aku melihat Pak Alfred terjatuh saat hendak masuk ke rumahnya. Mungkin itu sebabnya ia tidak memberi kita makan,” Petok memberi penjelasan.
Terus, apa yang harus kita lakukan?” kata Pipi. “Persediaan rumput Pak Alfred ada di luar. Kita tidak mungkin mengambilnya. Di luar sangat dingin.”
“Biar aku yang mengambilnya,” sahut Shipi.
Semua binatang menoleh padanya.
“Kamu yakin?” Tambing merasa sangsi.
“Serahkan saja padaku,” jawab Shipi tegas.
Shipi lalu ke luar kandang. Beruntung, salju yang turun tidak terlalu deras hari ini. Ia segera ke gudang persediaan makanan Pak Alfred. Di sana ia menemukan banyak rumput. Ada jagung untuk para ayam juga di gudang itu.
Shipi menggigit rumput sebanyak yang ia bisa lalu membawanya ke kandang. Ia melakukannya berulang kali hingga terkumpul banyak rumput untuk semua ternak. Tak lupa ia juga membawa jagung untuk para ayam.
Teman-temannya bersorak kegirangan.
“Petok… Petok… Terima kasih, Shipi,” seru Petok gembira. “Kamu telah menyelamatkan nyawa kami.”
“Bagaimana kamu bisa melakukannya?” tanya Goati akhirnya. “Di luar kan sangat dingin. Tapi kamu mampu bolak-balik dari kandang ke gudang.”
“Aku tidak merasa kedinginan kok,” jawab Shipi.
“Mooo... itu pasti karena bulunya yang tebal,” sambung Pipi. “Bulu itu membuatnya tetap hangat.”
Semua binatang memandang kagum pada bulu tebal Shipi. Shipi tersipu. Ia belum pernah diperhatikan seperti ini sebelumnya.
“Maafkan kami, Shipi,” ujar Tambing. “Kami menyesal selama ini telah mengejek bulumu. Padahal, bulumu sekarang menyelamatkan nyawa kami.”
Shipi tersenyum. “Ah, tidak apa-apa. Kita semua kan berteman. Jadi, sudah seharusnya saling membantu.

Semua binatang mengangguk senang.

Wednesday, 8 February 2017

Pepen dan Anak Penyu - Nusantara Bertutur

Saat Pepen berlibur ke pantai Sukamade, di Pesanggrahan, Banyuwangi, ia menemukan anak penyu terjebak di bebatuan. Sepertinya, ia tertinggal dengan rombongan penyu yang lepas pantai.
“Kasihan sekali penyu kecil ini,” gumamnya sembari mengangkat penyu itu dari himpitan batu pantai.
Penyu itu lucu sekali, membuat Pepen ingin memeliharanya. Akhirnya, ia memutuskan untuk membawanya pulang dan akan merawatnya di rumah. Ia memasukkan anak penyu itu ke dalam kotak bekal kosong yang sudah diberi air.
Sesampainya di rumah, Pepen memasukkan anak penyu itu ke dalam aquarium bersama ikan-ikan hias yang ia pelihara.
“Nah, Nyunyu, inilah rumahmu,” kata Pepen sambil memandang anak penyu yang berenang ke dasar aquarium. Nyunyu adalah nama yang diberikan Pepen karena bentuk anak penyu itu yang lucu.
Sudah dua hari Nyunyu tinggal di aquarium Pepen. Namun, Nyunyu tidak mau makan. Ia hanya diam di pojok aquarium sepanjang hari. Pepen pun bingung melihatnya.
“Apa kau sakit?” gumam Pepen.
“Mungkin dia kesepian,” sahut Papa.
“Kesepian?” Pepen terus bertanya-tanya dalam hati. Kenapa Nyunyu kesepian? Bukankah sudah ada Kio si koi dan Masu ikan mas yang menemaninya.
Seharian, Pepen bingung memikirkan Nyunyu yang tidak mau makan. Ia tak ingin melihatnya sakit. Mungkinkah Nyunyu rindu ibunya?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Pepen. Akhirnya, Pepen memutuskan akan membawa Nyunyu kembali ke pantai untuk mencari ibunya.
“Papa mau, kan, mengantar Pepen?” pintanya pada Papa.
Papa pun mengangguk, “Iya, Sayang.”
Butuh waktu berjam-jam bagi Pepen dan Papa untuk sampai di pantai Sukamade. Jalan yang dilewatinya begitu terjal dan berliku. Sesampainya di sana, mereka bertemu dengan Paman Salim. Ternyata, beliau adalah petugas dari tempat penangkaran penyu.
“Setelah penyu-penyu betina bertelur, mereka mengubur telur-telur itu di dalam pasir. Kemudian, mereka akan kembali ke laut setelah memastikan telurnya aman,” cerita Paman Salim.
“Jadi, Ibu Nyunyu juga sudah pergi, ya?” tanya Pepen.
Paman Salim mengangguk, “Iya.”
Hari ini, Paman Salim sedang tugas berpatroli. Beliau mengumpulkan anak-anak penyu yang baru menetas ke dalam sebuah ember besar untuk dibawa ke tempat penangkaran.
“Paman, maukah kau merawat Nyunyu juga? Ia tidak mau makan,” kata Pepen sedih.
“Bagaimana kalau kau membantuku merawat mereka?” tawar Paman Salim.
“Bolehkah, Pa?” tanya Pepen
“Tentu saja. Nanti, kamu lah yang bertugas melepas Nyunyu ke laut, ya!” jawab Papa.

Mata Pepen pun berbinar-binar. Ia gembira sekali. Pepen akan tetap merawat Nyunyu, meskipun tidak lagi di rumahnya. Ia pun memeluk Papa dengan sangat erat. “Terima kasih, Pa.”

Sayap Peri Hujan - majalah Bobo

Malam ini sangat cerah. Anak-anak Desa Permai sedang bermain kembang api di tanah lapang. Letupan-letupan kembang api yang bercahaya nampak sangat indah dari lagit. Anak-anak sangat senang. Suara sorak-sorak gembira itu akhirnya membuat Peri Hujan penasaran dan mengintip dari balik awan.
Tidak seperti peri-peri yang lain, Peri Hujan tidak pernah bermain dengan anak-anak. Ibu mereka selalu menyuruh anak-anak masuk rumah tiap hujan turun. Melihat keseruan mereka, membuat Peri Hujan ingin turun ke bumi dan ikut bermain kembang api. "Waaah... pasti menyenangkan" pikirnya.
Peri Hujan terbang menghampiri anak-anak. "Aku juga mau menyalakan kembang api!" serunya. Ia pun loncat-loncat kegirangan saat berhasil melepas kembang api ke angkasa. Semua anak-anak bertepuk tangan sangat meriah.
"Horeeee.. Aku mau lagi! Mau lagi!" Serunya. Peri Hujan sangat gembira.
Lemparan ke tiga. "Oops.. !!" Kembang api yang di lempar Peri Hujan tidak melambung ke angkasa, tapi jatuh ke punggungnya.
"AWAAAS PERI HUJAAN, BELAKANGMU!" Serentak anak-anak berteriak sambil menunjuk ke belakang Peri Hujan. Mereka semua kaget.
“Aaaaaaaargg... !!” teriak Peri Hujan. Ia juga kaget dan sangat takut. Peri Hujan langsung menutup kedua matanya dengan tangan dan berlari. TERLAMBAT! Sayap kanan Peri Hujan telah hilang.
Peri Hujan sangat sedih dan bingung. Ia tidak bisa terbang dan pulang ke awan dengan satu sayap. “Biim.. Biim.. Salabim..” Peri Hujan mengayunkan tongkatnya ke punggung. Ia mengucapkan mantra “Rippi.. Rippi.. Rippi..” dan terus diulang. Tak ada yang berubah! Sayap Peri Hujan tidak kembali. Ia lupa kalau tongkat sihirnya hanya bisa digunakan untuk menurunkan hujan.
Berminggu-minggu Peri Hujan berkeliling di Desa Permai. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Tongkat sihirnya hanya bisa mencurahkan air hujan dari atas awan. Tanpa air hujan, petani tidak bisa bercocok tanam. Ladang-ladang mereka pun semakin kering. Mereka gagal panen tahun ini!
Peri Hujan semakin sedih dan iba melihat bumi yang tandus. Kemudian, ia bertekat untuk bisa pulang ke awan bagaimanapun caranya.
"Aku harus pulang!" serunya.
“Tapi, bagaimana caranya aku bisa terbang?” pikirnya.
Peri Hujan pun kembali berkeliling. Ia mencari benda apapun yang bisa dijadikan sayap. Sesampainya di tepian sungai, peri hujan melihat angsa-angsa yang sedang berenang.
“BULU ANGSA!” pikirnya. Peri Hujan menemukan ide untuk membuat sayap dari bulu-bulu angsa. Ia pun meminta beberapa helai bulu kepada ratu angsa. Kemudian Peri Hujan merangkai bulu-bulu itu menjadi sebuah sayap. Tapi sayang, sayap dari bulu angsa tidak bisa membuatnya terbang. “Huuff”.
Peri Hujan tidak pernah putus asa. Ia terus mencari benda-benda yang bisa membuatnya terbang. Peri Hujan kembali berjalan menyusuri desa dan melewati tanah lapang. Dan ia melihat ada anak-anak yang sedang bermain layang-layang disana!
“AYOO... TARIIK...” teriak seorang anak.
“AWAAAAAS.... JANGAN SAMPAI JATUH!” seruya lagi. Layang-layang mereka melambung sangat tinggi. Sampai terlihat sangat kecil. Bentuknya seperti burung gagak. Warnanya hitam dengan ekor yang sangat panjang. Hembusan angin membuat layangan itu berputar-putar di angkasa. Dan ekornya meliuk-liuk di atas awan.
"Aku mau terbang!" Peri hujan menunjuk layang-layang yang terbang setinggi awan.
"Aku mau naik layang-layang!" serunya sangat senang.
"Tapi layang-layang ini terlalu kecil untukmu Peri" sahut anak-anak.
Sejenak Peri Hujan diam dan berpikir bagaimana caranya terbang dengan layang-layang. Kemudian ia punya ide baru!
"Ajari aku membuatnya!" serunya.
"Aku mau layangan raksasa" Peri Hujan sangat bersemangat. Ia melompat-lompat senang.
Anak-anak membantu Peri Hujan dengan senang hati. Mereka mengumpulkan rotan-rotan dari bukit dekat tanah lapang. Mereka memotong rotan itu sama panjang. Setelah itu, mereka mengikatnya dengan benang. Kemudian jadilah layang-layang raksasa. Mereka sangat gembira bisa membuat layang-layang raksasa bersama Peri Hujan.
Kemudian peri hujan naik ke atas layangan raksasa. Dan anak-anak menarik benangnya secara bersama-sama. Mereka dibantu oleh angin yang berhembus sangat kencang. Layangan raksasa pun terbang bersama Peri Hujan ke angkasa.
"Sampai jumpa lagi..." Peri Hujan melambaikan tangannya. Dan anak-anak juga membalas dengan lambaian tangan. Mereka semua tersenyum gembira.
Peri Hujan telah pulang dan kembali ke awan. Ia tidak lagi sedih karena kehilangan sayap. Ia sangat senang karena bisa berteman dengan anak-anak Desa Permai. Mereka semua baik dan suka menolong.
Dengan penuh semangat, Peri Hujan kembali mengacungkan tongkatnya dari atas awan. "Rainetta.. Rainetta.. " serunya. Air hujan pun mulai tercurah ke ladang-ladang petani. Dan Desa Permai tak lagi kekeringan.

Ratu Peri sangat bangga dengan Peri Hujan yang pantang menyerah. Tapi tak ada mantra yang bisa mengembalikan sayap peri yang hilang. Ratu Peri memberi hadiah sebuah permata ajaib kepada Peri Hujan. Kemudian permata itu di tempelkan ke ujung layangan raksasa. Kini, layangan itu bisa terbang kemanapun sesuai permintaan Peri Hujan. Tanpa bantuan tali dan angin lagi.

Bonbon si Jam Karet - Nusantara Bertutur

Bonbon, gajah Sumatera yang sangat pemalas. Ia selalu menunda-nunda semua pekerjaannya. Setiap kali ada acara, Bonbon baru datang setengah jam dari jadwal yang ditentukan.
Ellip, teman Bonbon suka menjulukinya jam karet karena ia selalu terlambat. Tapi, Bonbon tetap tidak peduli. Ia selalu terlambat bangun, terlambat berdoa, dan terlambat untuk berangkat ke sekolah.
Minggu besok, Gogon, teman sekolah Bonbon akan mengadakan acara syukuran di taman kota Solok.
“Ibuku menyiapkan banyak sekali es krim dan permen. Kalian datang, ya!” undang Gogon pada Bonbon dan Ellip.
“Es Krim? Wah…, aku pasti akan datang,” seru Bonbon penuh semangat. Ia sangat suka makan es krim. Apalagi yang rasa stroberi dan cokelat.
“Paling-paling kamu terlambat lagi dan kehabisan es krimnya, Bon. Kamu, kan, selalu mengulur waktu seperti karet. Haha,” Ellip menertawakan Bonbon.
Bonbon mendengus kesal. Ia bertekat bahwa ia akan berangkat tepat waktu ke acara Gogon besok. Sudah lama Bonbon tidak makan es krim. Ia sangat ingin makan es krim.
***
“Bon, ayo segera mandi,” seru Ibu Bonbon.
“Sebentar lagi, Bu,” sahut Bonbon.
Satu jam lagi, acara syukuran Gogon dimulai. Tapi, Bonbon masih sibuk dengan mainan barunya. Ketika seperempat jam lagi acara dimulai, Bonbon baru sadar kalau ia sudah terlambat.
“Oh, tidak…” seru Bonbon saat melihat jam dinding menunjukkan pukul 09.30 pagi. Ia bergegas mandi dan ganti baju, kemudian berangkat ke taman kota dengan bersepeda. Tapi….
“Di mana teman-teman?” gumam Bonbon. “Acaranya pasti sudah selesai. Huff.”
Hilang sudah kesempatan Bonbon mendapatkan es krim. Ia menyesal karena telah mengulur-ulur waktu. Bonbon duduk di kursi taman dengan wajah kusut.
Tiba-tiba…
“Wah, Bonbon. Tumben kamu tidak terlambat?” seru Trili.
“Aku tidak terlambat?” tanya Bonbon, heran. Bukankah acaranya pukul 09.00 pagi? Sekarang, kan, sudah pukul 10.00 pagi.
Tak lama kemudian, satu per satu teman Bonbon mulai berkumpul. Ia semakin heran. Apakah teman-temannya juga terlambat sepertinya?
“Akhirnya si jam karet bisa datang lebih cepat,” kata Ellip.
“Maksud kamu…,”
“Hehe, maafkan aku, Bonbon. Acaranya jam 10.30 WIB. Aku sengaja mengundangmu lebih cepat karena aku tahu kamu pasti terlambat satu jam,” seru Gogon.
“Oh! Lihatlah, kau sampai lupa mengancing bajumu. Tali sepatumu juga belum diikat.”
“Astaga! Pasti kau tergesa-gesa karena takut tidak kebagian es krim ya?”
Semuanya pun tergelak melihat Bonbon.
Bonbon sangat malu. Gara-gara jam karet, semuanya jadi berantakan. Dan hampir saja ia tidak kebagian es krim. Sejak saat itu, Bonbon berjanji akan berusaha untuk tidak mengulur-ulur waktu lagi. Ia bertekat akan lebih rajin.


Nota Belanja - Majalah Gadis

Ita sedang duduk di dalam kelas, sibuk menghitung ulang semua nota belanja keperluan sekolah sekaligus jajannya tadi. “Duh, kurang lima ribu. Tadi kubeliin apa ya?”
“Itaaa,” teriak Desya yang tiba-tiba datang dan berlari ke arahnya.
“Apaan sih! Teriak-teriak. Emang ini hutan? Huh,” protes Ita jengkel. Kedatangan Desya membuat ia makin susah mengingat-ingat rincian pengeluarannya tadi. Oh, bisa-bisa habislah riwayat Ita, Mama bakal ngomel sepanjang hari.
“Aduh Ita, kamu ini! Udah deh, berhenti ngurusi nota mulu,” cerca Desya. “Udah tahu berita kalau Reno menang olimpiade matematika lagi nggak?” lanjutnya.
“Oh, si otak kalkulator? Kalau itu sih sudah jadi rahasia umum, kali Sya,” gerutu Ita.
Reno, cowok tampan bermata sipit itu memang sangat popular se antero SMA. Tak heran, kalau ia langganan juara di setiap olimpiade matematika. Otaknya memang persis kalkulator. Ia bisa menghitung cepat tanpa perlu kertas buram atau mesin penghitung.
“Andai saja ia jadi cowokku,” Desya menopang dagu, senyum-senyum nggak jelas.
“Haha, jangan mimpi! Kenal aja enggak. Kamu, kan, gak popular,” gurau Ita. Sekolah favorit sebesar ini, dengan murid hingga seribu lebih. Hanya anak jenius yang bisa popular.
Desya melotot dan mendesah jengkel menatap sahabatnya, Ita.
“Eh, tapi, uangku yang lima ribu tadi..., kubeliin apa?”
“Dasar! Udah bikin jengkel, masih sempat-sempatnya…,” gerutu Desya dongkol.
“Tadi pagi kamu beli teh anget sama roti. Udah kecatat? Huh.”
“Oh, Iya, bener banget. Makasi Desya maniiis…,” kata Ita dengan nada menggoda.
***
Mama memang selalu terperinci dalam semua hal yang berurusan dengan uang. Semuanya tercatat rapi dalam pembukuannya. Bahkan, sampai-sampai Ita juga harus mencatat jajanan apa saja yang dibelinya hari ini. Huh.
Jarang sekali Mama rela merogoh koceknya untuk makan di luar. Tapi malam ini, Mama mengajak Ita dan Dandi, adiknya makan di rumah makan “Resto Bamboo”. Restoran dengan nuansa tradisional yang elegan. Mereka hanya bertiga, karena Papa sedang dinas ke luar kota.
“Mbak, ada paket murah meriah?” tanya Mama kepada waitress.
Ita dan Dandi spontan menepuk jidat. Kebiasaan Mama memang tidak pernah berubah. Jangan harap bisa memilih sendiri menu spesial. Yang penting murah dan bisa bikin kenyang.
“Gurami bakar pedas manis, dua porsi gratis satu,” kata seorang cowok bermata sipit.
“Reno,” mata Ita membelalak kaget melihat siapa yang ada di depannya. Dan baru kali ini, Ita mengakui kalau Reno benar-benar terlihat keren dan tampan. Selama ini, ia tak pernah memperhatikan dengan jelas seperti apa Reno. Degup jantungnya pun mulai tidak beraturan.
“Hai, kamu Ita, kan?” tanya Reno.
Ita mengangguk. Ia heran, dari mana Reno bisa tahu namanya? Saling menyapa saja tidak pernah, apalagi ngobrol bareng. Paling-paling hanya berpapasan satu dua kali saat di kantin.
“Wah, kalian saling kenal?” tanya Mama.
“Kami satu sekolah, Tante,” sahut Reno.
“Ini, restoran…,”
Reno mengangguk, “Iya, ini restoran Mamaku.”
“Wah, kebetulan sekali,” seru Mama. “Tante bisa dapat diskon, dong.”
“Mama!” seru Ita. Wajahnya berubah merah padam, persis kepiting rebus karena malu dengan sikap Mama.
“Tentu saja, Tante. Pilih saja apa yang Tante suka,” kata Reno ramah.
Saat Reno hendak berbalik arah, tiba-tiba Mama nyeletuk, “Eh, Reno, gabung di sini saja. Kita ngobrol-ngobrol biar makin akrab.”
“Terima kasih, Tante,” Reno menarik satu kursi kosong yang ada di sebelah kursi Ita.
Kalau saja Desya tahu, pasti ia bakalan cemberut melihat kedekatan Ita dengan Reno. Cowok berotak kalkulator ini ternyata orang yang sangat menyenangkan. Ia bisa dengan begitu mudah mencairkan suasana dan membangun keakraban. Pantas saja semua cewek menggilanya.
“Oh, iya, dari mana kamu tahu namaku?” tanya Ita yang masih penasaran.
“Tahu, dong! Kamu, kan, gadis yang selalu mengumpulkan nota belanja itu.”
Glekk. Kini, hanya tinggal suara denting sendok dan piring di depan Ita. Telinganya mendadak panas mendengar kalimat terakhir Reno. Semua gara-gara Mama. 

Tuesday, 7 February 2017

Bunga Kuncup Satu - Majalah Bobo

Langkah Ibu tiba-tiba terhenti. Tangan Lulu menarik-narik sisi bawah baju Ibu sambil menunjuk sesuatu.
"Bu ... Lulu mau pohon mawar yang itu. Yang sebelah sana!" rengek Lulu.
Ibu menggeleng. Ibu tahu apa yang Lulu maksud dan tak bisa memenuhinya.
Ada toko baru di sebelah minimarket. Toko itu bercat merah muda berlukis bunga sulur cantik di dinding depan. Aneka rangkaian bunga dan tumbuhan yang jarang Lulu lihat, dijual disana. Di dekat pintu masuk, sebuah rak tanaman berbentuk sepeda putih terpajang indah. Pot-pot kecil berisi pohon bunga warna-warni ada di atasnya. Lulu ingin sekali membelinya untuk tugas menanam di sekolah.
“Harganya pasti mahal,” gumam Lulu.
Lima minggu lalu, Bu Ami memberi tugas murid kelas 4 untuk praktik menanam bunga mawar. Lulu sudah membeli pot kecil. Lalu, dengan dibantu Ibu, Lulu mengisi pot itu dengan campuran tanah, sedikit pasir serta pupuk kandang. Sebelumnya ibu sudah menyiapkan sebatang dahan pohon mawar pemberian Ibu Mika, pemilik kebun mawar yang luas. Lulu dan Ibu menanamnya dengan cara stek. Batang sepanjang 5 cm itu Ibu tancapkan di tengah-tengah pot.
Sekarang pohon mawar Lulu sudah mulai tumbuh. Daunnya tambah banyak. Namun, hanya ada satu kuncup mawar yang muncul. Dan dua hari lagi, tugas itu harus dikumpulkan.
                  
***
Esoknya, di sekolah, teman-teman di kelas Lulu ramai membicarakan perkembangan pohon mawar masing-masing. Lulu sedih saat mendengar pohon mawar milik teman-temannya sudah mekar bunganya. Padahal, Lulu sudah merawat pohon mawarnya sepenuh hati, sesuai saran Ibu. Namun, kenapa hanya bunga miliknya yang masih kuncup?
Sepulang sekolah, Lulu cemberut terus sampai waktunya makan siang.
"Lulu kenapa? Kok cemberut?" Ibu tersenyum, menyodorkan sepiring nasi pada Lulu.
"Lulu kesal, Bu. Mawarnya Sari sudah berbunga. Banyak lagi, katanya. Teman-teman yang lain juga. Cuma Lulu yang bunganya kuncup satu." rengek Lulu.
Ibu tersenyum, "Tidak apa-apa, Lu. Yang penting, pohon itu, kan, kamu yang tanam dan rawat sendiri. Ibu yakin, pohon Lulu tidak kalah bagus dibandingkan pohon teman-teman lain."
Lulu terdiam mendengar kata-kata Ibu. Kata-kata Ibu ada benarnya juga.
***
Beberapa hari kemudian, suasana di kelas 4 ramai. Semua teman menatap kagum pada pot yang dibawa Sari, teman sebangku Lulu. Mawar yang dibawa Sari memiliki campuran warna berbeda, seperti pelangi. Ada warna kuning, biru, merah,hijau dan ungu. Bagus sekali.

Teettt... bel tanda istirahat berbunyi. Lulu, Sari dan teman-teman lain berlarian ke luar kelas. Bu Ami tetap di dalam kelas. Satu persatu Bu Ami mengamati dan memberi nilai pada setiap pot bunga. Dan tibalah giliran pot bunga milik Sari yang dinilai. Bu Ami memutar pot itu pelan, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Tak sengaja Bu Ami menemukan sesuatu di bawah pot itu.
Seminggu kemudian, nilai atas praktik bercocok tanam diberikan kepada masing-masing murid. Lulu dan semua teman di kelas senang dan puas dengan nilai masing-masing. Sayang, hari ini Sari tidak masuk sekolah karena sakit.
“Pasti nilai Sari sangatlah bagus,” tebak Lulu dalam hati. Lulu berencana akan menjenguk Sari usai pulang sekolah.
"Tok...tok...tok!" Lulu mengetuk pintu rumah Sari dengan perlahan. Tangan kanan Lulu membawa bolu pisang titipan Ibu.
Pintu terbuka."Eh, ada Lulu. Ayo masuk, Lu. Sari ada di kamarnya." sambut mamanya Sari dengan ramah.
"Iya, terima kasih Tante. Ini ada bolu untuk Sari dan Tante."
Lulu masuk ke kamar Sari yang bagus dan rapi. Tante. Sari sedang duduk di atas kasur dan tampak kaget melihat Lulu datang.
"Eh, Lulu. Terima kasih ya, sudah datang ke sini." ucap Sari pelan. Wajahnya sedikit pucat dan terlihat sedih.
"Iya, sama-sama, Sari. Memangnya, kamu sakit apa?” tanya Lulu.
Sari meringis, tidak menjawab pertanyaan Lulu.
“O iya, hari ini nilai praktik menanam mawar sudah dibagikan, lo. Pasti nilai kamu yang terbagus deh, Sar.”
Sari terdiam mendengar ucapan Lulu tadi.
Tiba-tiba, Sari menangis. Lulu jadi bingung harus bagaimana. Atau, jangan-jangan Lulu salah bicara, sehingga membuat Sari sedih dan menangis.
Akhirnya, Sari menceritakan dengan jujur tentang pot bunganya. Lulu tidak percaya dengan apa yang baru saja Sari ceritakan. Namun, Lulu juga ingat pernah melihat pohon mawar milik Sari. Tepatnya di mana, dia lupa.
Rupanya, Sari membeli pohon rainbow rose itu di toko bunga yang ada di sebelah minimarket. Bu Ami mengetahuinya dari nama toko bunga yang tercetak halus di bagian bawah pot. Dan sekarang, Bu Ami mengharuskan Sari mengulang praktik menanamnya itu. Sari malu pada Bu Ami dan teman-teman di kelas, karena ketahuan berbohong. Sampai-sampai, Sari jadi sakit dan tidak masuk sekolah.
“Sar, jangan sedih lagi, ya. Aku mau, kok, kasih tahu kamu cara menyetek mawar dengan benar. Kita, kan, sahabat,” hibur Lulu.
“Kamu serius Lu, mau ajarin aku menanam mawar?” tanya Sari tak percaya.
Lulu mengangguk.”Kamu siapin alat-alatnya ya, hari Sabtu kita tanam mawarnya bersama-sama.”
Sari tersenyum, wajahnya tidak sedih lagi. Lulu juga senang bisa membantu teman yang sedang kesulitan.